Sabtu, 26 September 2009

Klinik Salah Ambil Embrio, Carolyn Mengandung Bayi Orang Lain

Klinik Salah Ambil Embrio, Carolyn Mengandung Bayi Orang Lain
Rela Serahkan ke Orang Tua Biologis

Kebahagiaan Carolyn Savage, 40, mendadak terenggut ketika tahu bahwa janin yang dikandungnya bukanlah miliknya. Klinik salah mengambil embrio yang ditanamkan ke rahimnya. Embrio itu milik orang lain.

---

DUA pekan ke depan, Carolyn dijadwalkan melahirkan bayi laki-laki melalui operasi caesar. Namun, dia tidak akan bisa menimang dan membesarkan bayi tersebut.

Pasalnya, begitu si jabang bayi lahir, orang tua biologis sang bayi, Paul dan Shannon Morell dari Detroit, Michigan, sudah menunggu untuk segera mengambil alih si kecil dari dekapan Carolyn. Merekalah yang lebih berhak atas bayi tersebut. Merekalah pemilik cikal bakal janin bayi yang dikandung Carolyn, meski kejadiannya tidak sengaja.

''Bagaimana caranya berterima kasih kepada orang yang telah melakukan hal besar untuk Anda? Ya, saya akan mengucapkan terima kasih dengan jutaan cara yang saya bisa,'' ujar Shannon Morell saat ditanya komentarnya tentang bayinya yang akan dilahirkan oleh orang lain.

Kasus itu berawal ketika sebuah klinik salah memasukkan embrio beku ke rahim Carolyn pada awal Februari. Sepuluh hari kemudian, Sean Savage mendapat telepon dari seorang dokter bahwa istrinya, Carolyn, mengandung janin orang lain. ''Demi Tuhan, kami tidak pernah berpikir bahwa kami akan mempunyai bayi yang bukan anak kandung kami sendiri,'' kenang Carolyn.

Sang dokter yang menelepon menawarkan bahwa mereka bisa mengaborsi kandungan tersebut. ''Tapi, itu (aborsi) sama sekali bukan hal yang kami pikirkan,'' tegas Sean.

Keluarga Savage enggan mengungkap nama klinik tersebut. Mereka hanya menyatakan bahwa klinik itu tidak berada di Ohio. Namun, keduanya telah menyewa pengacara untuk memastikan bahwa klinik tersebut akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kesalahan yang telah dibuat. Belakangan diketahui, pengacara yang ditunjuk keluarga Savage adalah Brian McKeen asal Detroit. Jadi, sangat mungkin klinik tersebut berada di Detroit.

Keluarga Morrel yang tinggal di Detroit Utara mengatakan tidak kenal dengan keluarga Savage. Mereka sedang berupaya mendapatkan keturunan lewat bayi tabung dengan embrio terakhir mereka yang disimpan di klinik tersebut.

Karena itu, Shannon Morrel mengatakan khawatir jika perempuan yang mengandung embrionya memilih menggugurkan kandungan tersebut. Sebab, itu sama dengan menghapus harapannya untuk memberikan adik bagi putri kembarnya. ''Saya pikir, dia tidak akan mempertahankan kandungannya. Saya sempat putus asa,'' katanya.

Fakta berbicara lain. Beberapa hari kemudian, keluarga Morell mengetahui bahwa Carolyn tidak hanya sanggup melanjutkan kehamilannya, tapi juga mau memberikan bayinya kepada Shannon.

Pada minggu-minggu pertama kehamilan, keluarga Savage mengirimkan surat elektronik kepada Morell untuk menginformasikan tentang kesehatan kandungannya setiap kali periksa ke dokter. Akhirnya, dua pasangan tersebut bertemu saat kehamilan memasuki bulan ketiga. Mereka saling menjabat tangan dan mulai menjalin hubungan intensif.

Agustus lalu, Carolyn menelepon Shannon dan menanyakan apakah dia ingin datang saat pemeriksaan ultrasonografi. Saat pemeriksaan kandungan tersebut, Shannon merasa gembira sekaligus sedih. Dia harus menjaga perasaan Carolyn. Karena itu, dia tak mau terlalu meluapkan kebahagiaan. ''Meski saya tahu bayi yang ada di dalam sana (kandungan Carolyn) milik saya, saya merasakan perasaan yang sama seperti saat mengandung bayi kembar saya,'' jelasnya.

Pencampuran embrio oleh klinik kehamilan merupakan sebuah kejahatan. Keluarga Savage bisa menuntut klinik tersebut ke jalur hukum. Namun, mereka tidak berpikir soal itu saat ini. Carolyn dan suaminya memilih untuk melakukan hal yang lebih penting. Mengembalikan bayi yang dikandungnya kepada ibu biologisnya. (cak/ami)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar