Kamis, 10 September 2009

Gempa Bumi

Pemerintah perlu meminimalisasi dampak gempa

Oleh: Herry Kurniawan


Gempa tektonik 5,9 skala Richter yang mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu 27 Mei 2006 telah menewaskan lebih dari 5.000 orang dan merobohkan ribuan rumah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bantul, Wonosari, Sleman, dan Klaten. Peta penyebaran gempa tektonik mengikuti pola dan aturan yang khusus serta menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi.

Di Lautan Indonesia persis sebelah selatan Provinsi Jawa Tengah dan DIY, terdapat pertemuan dua lempeng benua, yaitu lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke arah utara menunjam ke bawah dengan lempeng Euro-Asia yang stabil dan cenderung bergerak relatif ke selatan.

Masing-masing lempeng tektonik ini saling bergerak relatif satu terhadap yang lain dengan kecepatan hingga 5 cm per tahun. Pada suatu titik tertentu, jika kelenturan lempeng kerak bumi terlampaui, maka akan terjadi pelepasan energi dahsyat berupa gempa bumi tektonik.

Wilayah Jateng dan DIY memang terletak di dekat zona labil itu, sehingga cukup rawan terhadap gerakan dan pelepasan energi akibat pergeseran kerak bumi. Hal itu nampaknya memicu sesar/patahan purba, yang selama ini tidak aktif, menjadi aktif kembali. Sesar Opak mengakibatkan kerusakan fatal wilayah Bantul hingga Klaten.

Terlebih bagi beberapa kawasan di DIY yang memiliki sesar/patahan aktif, atau gunung api diperkirakan bisa memicu terjadinya pergerakan sistem patahan yang ada atau memicu terjadinya letusan Gunung Merapi.

Analisis alamiah

Mengacu data Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, daerah-daerah yang kini rawan gempa bumi yakni Aceh, Sumatera Utara-Simeulue, Sumatra Barat-Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten-Pandeglang, Jawa Barat-Bantar Kawung, DI Yogyakarta, Lasem, Jawa Timur-Bali, NTT, NTB.

Selain itu, Kepulauan Aru, Sulawesi Tenggara, Selawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sangihe Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Kalimantan Timur, Jayapura, Nabire, Wamena, dan Kepala Burung Papua.

Indonesia termasuk negara rawan gempa karena terletak di antara tiga lempeng Euro-Asia, Pasifik, dan Indo-Australia. Ada empat faktor penyebab yang memungkinkan terjadinya gempa bumi di Indonesia. Pertama, karena lempengan itu selalu bergerak 3 - 4 cm per tahun. Karena pergerakan tadi, terjadi gesekan antara satu lempeng bumi dan lempeng lainnya.

Bila tingkat elastisitas satu lempeng tidak kuat menahan gesekan, akan terjadi patahan lempeng yang mengakibatkan gempa bumi. Kedua, karena produksi energi yang terjadi dari panas di pusat bumi, menimbulkan pelepasan energi, lalu menekan lapisan-lapisan kulit dekat permukaan bumi.

Ketiga, pelepasan energi juga bisa melalui aliran konvektif yang perlahan dari material dalam bumi. Itu semua merupakan sebuah proses yang oleh para ahli geofisika diyakini ikut mendorong menjauhnya antara benua-benua. Keempat, ketegangan juga bisa dilepas pascakeretakan mendadak kerak bumi, atau gerakan patahan-patahan kerak bumi. Gerakan di sepanjang patahan ini memancarkan energi ke luar dan memunculkan gempa bumi.

Menurut penelitian para ahli, pelepasan energi ketegangan dari dalam bumi ini, yang mewujud dalam gempa besar, cenderung terjadi di dua sabuk utama. Sabuk pertama, tempat terjadinya pelepasan sekitar 85% energi dalam bumi, melewati kawasan Pasifik, dan lazimnya mengenai negara-negara yang garis pantainya berbatasan dengan Samudra Pasifik, seperti Jepang dan pantai barat Amerika Utara. Sabuk kedua, melewati Laut Tengah, terus ke timur, ke Asia dan bertemu dengan sabuk pertama di Indonesia. Di sepanjang kedua sabuk inilah gempa-gempa besar terjadi dengan frekuensi yang bervariasi.

Upaya pemerintah

Indonesia sudah sarat pengalaman gempa. Karena itu, selain mempelajari proses terjadinya gempa bumi, kita masih harus mau belajar dari pengalaman masa lalu agar mampu meminimalisasi dampak gempa bumi. Dengan mengetahui paradigma bencana gempa bumi, maka kita akan bijaksana dalam menyikapinya. Untuk jangka panjang, pemerintah bersama-sama peneliti ilmu geofisika perlu membuat peta zonasi gempa bumi tektonik.

Peta semacam ini secara global sudah ada, namun perlu dikembangkan peta yang lebih detail dan rinci, misalnya peta zonasi gempa untuk setiap provinsi atau bahkan setingkat kabupaten, disertai dengan peraturan bangunan tahan gempa.

Di samping itu, perlu diupayakan untuk memperapat jaringan seismograf (alat pendeteksi dan pencatat gempa bumi) di seluruh wilayah Indonesia, sehingga peta bencana akan semakin bisa dibuat per kecamatan atau bahkan per desa.

Untuk jangka menengah, perlu melakukan riset yang lebih rinci di setiap segmen patahan (sesar) aktif seperti Sesar Opak (Bantul), Sesar Menoreh (Kulon Progo), serta sesar-sesar mikro aktif lainnya, yang sering memicu terjadinya gempa bumi tektonik. Pada tahap itu, perlu dibuat peta zonasi gempa bumi yang lebih rinci untuk setiap daerah kabupaten/kodya.

Bahkan perlu secepatnya melakukan penyuluhan bencana di berbagai wilayah Tanah Air yang rawan gempa bumi. Perlu juga disarankan kepada penduduk untuk tidak bermukim di wilayah yang diperkirakan rawan gempa bumi.

Selain itu, perlu pula dilakukan studi deformasi kerak bumi dengan jalan pemantauan dan monitoring gempa bumi mikro, pergerakan kerakbumi, memetakan sesar-sesar aktif, mempelajari karakteristik seismologi suatu daerah dan lain sebagainya.

Memang benar terjadinya gempa bumi tidak dapat kita cegah, tetapi para pakar dapat memprediksi dan melakukan langkah antisipatif. Untuk meminimalisiasi dampak gempa maupun tsunami di Indonesia, pemerintah harus segera melakukan penelitian yang intensif tentang segala sesuatu terkait sumber gempa bumi dan tsunami di seluruh wilayah Indonesia.

Pemerintah juga kita harapkan menjalin kerja sama regional dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Pasifik guna mengembangkan sistem peringatan dini (early warning).

Selain itu, kita juga harus memberdayakan keterlibatan dunia pendidikan perguruan tinggi. Artinya, ilmu geofisika harus ditempatkan pada level kepentingan yang lebih tinggi dari yang ada sekarang.

Jurusan Geofisika dan Meteorologi di Institut Teknologi Bandung dan universitas-universitas lain, lembaga penelitian seperti LIPI, serta Badan Meteorologi dan Geofisika, kita harapkan untuk terus meningkatkan kepakarannya. Jika mereka mampu memberikan pemahaman lebih besar tentang masalah geofisika, khususnya yang terkait kondisi Indonesia, kita akan memperoleh gambaran lebih utuh tentang perilaku alam yang bisa berulang secara periodik.

URL Source: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL

Herry Kurniawan
Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), alumnus ITB

1 komentar: